Sabtu, 14 Januari 2017

Kegagalan Jasa Pelayanan

Menurut Maxham 2001 (dalam Alfansi 2012) kegagalan jasa didefinisikan sebagai semua kesalahan jasa (baik yang riel atau hanya anggapan konsumen) yang terjadi saat konsumen berhubungan dengan penyedia jasa. Lewis and Clacher, 2001 (dalam Alfansi 2012) kegagalan jasa merupakan sesuatu yang umum dan sering dianggap tidak bisa dihindari sebagai akibat karakteristik jasa”

Kualitas pelayanan telah menjadi variabel strategis dalam upaya organisasi untuk memuaskan danmempertahankan pelanggan atau untuk menarik pelanggan baru (Lewis dan Clacher, 2001). Namun, bagi banyakpenyedia layanan, kegagalan layanan tidak bisa dihindari karena beberapa aspek layanan seperti pelanggansikap dan perilaku karyawan tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh manajemen. Semua layananorganisasi, namun kualitas didorong, akan memiliki beberapa jenis kegagalan layanan sehubungan dengansatu atau lebih dimensi kualitas pelayanan. Ide dari nol cacat secara luas diterapkan diindustri manufaktur sangat sulit diterapkan di industri jasa. Sebuah perusahaan tidak bisamenghindari kegagalan pelayanan karena kesalahan manusia dalam pemberian layanan (Fisk, Brown, dan Bitner, 1993).
Kegagalan layanan didefinisikan sebagai pertunjukan layanan yang jatuh di bawah harapan pelanggan Hoffman dan Bateson (1997) dalam Alfansi (2009). Maxham (2001) dalam Alfansi (2009) mendefinisikan kegagalan layanan sebagai layanan terkait kecelakaan (nyata atau dianggap) yang terjadi selama pengalaman pelanggan; dengan perusahaan.
Beberapa peneliti percaya bahwa kegagalan layanan yang tidak segera ditangani oleh penyedia layanan bisa mahal dan dapat menyebabkan pembelotan pelanggan (Kotler, 2000; Liu, Sudharshan, dan Hamer, 2000; Maxham, 2001; Roos, 1999) dalam Alfansi (2009).
Kegagalan layanan bisa disebabkan oleh karakteristik unik dari layanan dan faktor psikografis individu terlibat dalam pemberian layanan (Lewis dan Spyrakopoulos, 2001). Bitner, Booming dan Tetreault (1990) menyimpulkan bahwa tanggapan karyawan terhadap kegagalan layananlangsung berhubungan dengan kepuasan pelanggan dan ketidakpuasan. Peneliti lain mengungkapkan bahwa kegagalan layanan juga bisa karena perilaku pelanggan dalam proses pengiriman layanan (Armistead, Clarke, Stanley, 1995; Denham, 1998; Johnston, 1994) dalam Alfansi (2009).
Kegagalan layanan dapat dikelompokkan menjadi empat kategori: kegagalan sistem pelayanan, kesenjanganantara kebutuhan dan permintaan, unprompted/tindakan karyawan yang tidak diinginkan, dan bermasalah pelanggan (Bitner, booming, dan Tetreault, 1990) dalam Alfansi (2009). Dalam cara yang sama, Lewis dan Spyrakopoulos (2001) dalam Alfansi (2009) diklasifikasikan kegagalan layanan ke dalam lima kategori, yaitu organisasi prosedur, kesalahan, perilaku karyawan, kegagalan teknis fungsional, dan tindakan/kelalaian dari organisasi yang bertentangan dengan rasa perdagangan yang adil.
Kegagalan jasa melibatkan kegiatan yang terjadi sebagai akibat dari pelayanan awal yang diterima oleh pelanggan yang jatuh di bawah harapan pelanggan  atau pada “zona toleransi” (Zeithaml dkk., 1993). Kegagalan terjadi karena banyak alasan antara lain: mungkin jasa tidak tersedia pada saat sudah dijanjikan, terlambat dikirimkan, hasilnya buruk, atau karyawannya kasar atau kurang perhatian. Semua kegagalan ini membawa respon dan kesan buruk dari pelanggan. Jika dibiarkan pelanggan dapat meninggalkan produk kita, memberi  tahu pelanggan lainnya tentang kesan buruk yang diterima atau bahkan menuntut melalui pengadilan.
Walaupun organisasi jasa telah berusaha melakukan yang terbaik dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan atau kliennya, sering terjadi tetap saja kegagalan jasa sulit dihindarkan. Misalnya, keberangkatan dan kedatangan pesawat yang terlambat, sopir travel yang ugal-ugalan, hasil potong rambut yang tidak sesuai harapan dan sebagainya. Menurut Denham (1998) dalam Tjiptono (2009) secara garis besar masalah-masalah yang dihadapi setiap perusahaan bisa ditelusuri dari 3 sumber utama.
  1. 40% masalah dikarenakan oleh perusahaan sendiri, misal janji yang berlebihan.
  2. 20% masalah disebabkan karyawan misal, berperilaku kasar dan tidak sopan.
  3. 40% sisanya disebabkan pelanggan misal, tidak teliti membaca instruksi atau petunjuk yang diberikan.
Apabila perusahaan mengabaikan kegagalan bahkan menganggap sesuatu yang biasa, maka perusahaan bersangkutan akan mendapat masalah besar, bahkan bisa kehilangan bisnisnya.
Kunci sukses bagi setiap perusahaan adalah bersikap proaktif dalam menekan setiap kemungkinan terjadinya kegagalan dan membekali karyawan dengan serangkaian alat pemulihan (recovery) yang afektif guna memperbaiki service enconter manakala terjadi kegagalan dalam memuaskan harapan pelanggan.
Denham (1998) dalam Tjiptono (2009) faktor penyebab utama kegagalan jasa yang bersifat inheren dalam service enconter adalah:
  1. Karakteristik unik dari jasa yang membedakanya dari barang.
  2. Sifat intangibilitas menyebabkan perbandingan antara persepsi dengan harapan oleh pelanggan menjadi proses evaluasi yang subyektif.
  3. Sifat perishability menyebabkan penawaran dan permintaan jasa sangat sulit diselaraskan.Hal ini sering menjadikan penundaan layanan dari waktu ke waktu sehingga pekerja jasa maupun pengguna jasa kehilangan kesabaran.
  4. Karakteristik inseparabilitas menempatkan penyedia jasa berinteraksi langsung (face to face) dengan pelanggan. Interaksi langsung dan partisipasi pelanggan dalam proses produksi jasa sangat potensial menimbulkan berbagai macam masalah, terutama menyangkut kualitas jasa.
  5. Kegagalan jasa terjadi pada berbagai critical incedent dalam service encounter. Setiap service encounter terbentuk dari sejumlah moment of fruth, yaitu moment interaksi spesifik dan aktual antara pelanggan dengan karyawan penyedia jasa, terutama yang memuaskan dan tidak memuaskan, seperti perubahan skedul penerbangan tanpa pemberitahuan, kekeliruan dalam penanganan bagasi.
Kategori Kegagalan Jasa
Kegagalan jasa pada umumnya dikelompokkan dalam tiga kategori berikut: (Bitner 1990).
  • Respon karyawan terhadap kegagalan suatu penyampaian jasa
Tipe ini merupakan kegagalan dalam penawaran jasa inti perusahaan. Dalam konteks usaha travel, contoh kegagalan semacam ini antara lain, kondisi kendaraan yang tidak nyaman,sopir yang ugal – ugalan, AC yang tidak dingin, toilet yang jorok dan sebagainya. Secara garis besar kegagalan sistem penyampaian jasa terdiri atas respon karyawan terhadap tiga tipe kegagalan jasa: (Bitner 1990).
  1. Ketidaktersediaan jasa, berkenaan dengan tidak adanya layanan tertentu yang bisa tersedia (unavaitable service)
  2. Layanan yang lambatnya keterlaluan, layanan atau karyawan yang dipersepsikan pelanggan sangat lambat penerbangan , makanan yang sudah dingin, pesawat yang kotor, bagasi yang keliru ditangani.
  • Respon karyawan terhadap kebutuhan individu dan permintaan spesial pelanggan.
Kebutuhan pelanggan baik yang sifatnya implisit maupun eksplisit. Kebutuhan implisit adalah kebutuhan pelanggan yang tidak diminta secara khusus namun sepatutnya diketahui penyedia jasa. Contoh jika ada perubahan jadwal penerbangan sebaiknya penumpang diberitahu. Sebaliknya kebutuhan eksplisit adalah kebutuhan yang memang jelas-jelas diminta misal voucher penginapan sehubungan penundaan jadwal penerbangan oleh perusahaan.Secara garis besar kebutuhan dan permintaan pelanggan mencakup respon karyawan terhadap empat tipe kemungkinan kegagalan jasa berikut (Bitner 1990).
  1. Kebutuhan spesial yaitu permintaan pada pertimbangan religius, medis, diet psikologis, bahasa atau sosiologis khusus. Contoh menyediakan makanan khusus vegetarian.
  2. Respon karyawan terhadap preferensi pelanggan menyangkut kemampuan karyawan memodifikasi sistem penyampaian jasa sehingga dapat memenuhi preferensi khusus pelanggan.
  3. Respon karyawan terhadap kesalahan pelanggan (Customer error). Contoh tamu yang mehilangkan kunci hotel.
  4. Respon karyawan terhadap pihak-pihak tertentu yang mengganggu pelanggan jasa pelanggan lainnya (disruptive others) berkenaan kemampuan karyawan dalam menenangkan situasi atau perselisihan antar pelanggan.
  • Tindakan karyawan yang tidak cepat dan tidak diharapkan (unprompted and unsolicited employee actions).
Tipe ini menyangkut kejadian dan perilaku karyawan (yang baik maupun yang jelek) di mana semuanya tidak diharapkan pelanggan.  Tindakan-tindakan ini tidak diminta pelanggan dan juga tidak menjadi bagian dari sistem penyampaian jasa inti (Bitner 1990).
Faktor Kegagalan Jasa
Dimensi faktor kegagalan jasa pelayanan, sebagai berikut: (Alfansi, 2009).
  1. Faktor 1: Kegagalan Kehandalan Medis. Faktor ini menunjukkan jumlah terbesar dari koefisien korelasi yang signifikan. Faktor ini memilikibeban berat selama lima variabel terutama berkaitan dengan ketidakmampuan dokter dan paramedisdalam menangani pasien. Empat dari lima variabel dalam faktor mencerminkan kegagalan layanan dirumah sakit yang terkait dengan Dokter kegagalan dalam menangani pasien. Keterampilan yang tidak memadai dari dokter,Dokter kesalahan dalam perawatan medis, dokter adalah terburu-buru dalam menangani pasien, dan dokterlambat layanan variabel kegagalan yang menghitung untuk dimensi ini.
  1. Faktor 2: Kegagalan Bukti Fisik. Faktor ini memiliki beban berat untuk empat variabel yang berkaitan dengan bukti-bukti fisik pelayanandalam industri rumah sakit. Variabel kegagalan layanan yang memiliki korelasi yang tinggi dengan faktor iniadalah terbatasnya jumlah dokter dan paramedis, kurangnya fasilitas medis, dan kekumuhan darirumah sakit.
  1. Faktor 3: Kurang Informasi. Faktor ini ditandai dengan dua variabel yang mencerminkan kesulitan pasien dalam mencariinformasi tentang perawatan medis dan pasien kesulitan dalam mendapatkan diresepkanobat di apotek rumah sakit.
  1. Faktor 4: Kesalahan Perawatan Medis. Faktor ini memiliki beban berat pada tiga variabel yang mencerminkan kesalahan perawatan medis dipelayanan rumah sakit. Scoring individu yang sangat pada faktor ini akan cenderung khawatirdengan kesalahan diagnosa yang dilakukan oleh dokter. Mereka juga akan khawatir dengan lambatdilayani disediakan oleh staf medis. Mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki signifikanperbaikan setelah pengobatan dan obat-obatan. Faktor demikian telah diberi label medicalpengobatan errors. Semua variabel yang berkaitan dengan faktor ini mencerminkan kegagalan proses layanan. Sekarangcukup dimengerti karena hasil teknis pelayanan rumah sakit sulit untuk dievaluasidalam waktu singkat. Oleh karena itu, pasien cenderung untuk menilai proses layanan yang diberikan oleh dokterdan paramedis.
  1. Faktor 5: Layanan Mahal. Faktor dinobatkan sesuai sejak tiga variabel yang berhubungan dengan biaya tambahanterkait dengan layanan yang diberikan dan biaya non-moneter yang terkait dengan layanan.Pasien merasa bahwa proses administrasi yang memakan waktu dan mereka tidak menghargaibiaya tambahan yang terkait dengan layanan yang diberikan oleh rumah sakit.
  1. Faktor 6: Kegagalan Penanganan Keluhan. Faktor keenam berhubungan dengan kegagalan rumah sakit dalam menangani keluhan pasien. Kebanyakan pasiendirasakan bahwa rumah sakit yang lambat dalam menangani keluhan mereka. Pasien juga percaya bahwarumah sakit tidak menyediakan layanan uang nilai-untuk. Mereka percaya bahwa biaya rumah sakit adalah untukmahal dibandingkan dengan layanan yang disediakan.
sumber : http://lumalila.com/2014/05/14/kegagalan-jasa/

Sabtu, 31 Desember 2016

MELIHAT LUKISAN PROGRAM KERJA DI AKHIR TAHUN

Oleh : Yono Maulana S.Kom,MM, MPM® Annual report adalah sebuah activity wajib untuk tiap perusahaan yang menjalankan bisnis Suatu laporan mengenai keadaan keuangan perusahaan dalam jangka waktu 1 tahun. Termasuk di dalam laporan ini antara lain Neraca Perusahaan, Laporan Laba/Rugi dan Neraca Arus Kas. Laporan ini harus disampaikan kepada para pemegang saham untuk disetujui di dalam RUPS untuk selanjutnya disahkan sebagai laporan tahunan resmi perusahan.
Lebih luas dari itu biasanya perusahaan juga pada umumnya tidak hanya melihat dari Perspektif Keuangan saja namun termasuk Perspektif Pelanggan, Perspektif Bisnis Internal dan Perspektif Pertumbuhan dan Pembelajaran ini yang disebut dengan konsep Balanced Scorecard (BSC) banyak perusahaan menggunakan metode ini karena tidak hanya mengukur dari sisi keuangan namun dari perspektif lainnya juga sehingga diharapkan mampu menjabarkan misi dan strategi perusahaan kepada tolak ukur kinerja perusahaan tersebut.

Dari Perspektif Keuangan, Balanced Scorecard menggunakan tolok ukur kinerja keuangan, seperti laba bersih dan ROI (Return on Investment), karena tolok ukur tersebut secara umum digunakan dalam organisasi yang mencari keuntungan/provit. Tolok ukur keuangan yang didesign dengan baik dapat memberikan gambaran yang akurat untuk keberhasilan suatu organisasi.  
Dari Perspektif Pelanggan, bagaimana organisasi memperhatikan pelanggannya agar berhasil. Mengetahui pelanggan dan harapan mereka tidaklah cukup, suatu organisasi juga harus memberikan insentif kepada manajer dan karyawan yang dapat memenuhi harapan pelanggan. Bill Mariot mengatakan "Take care of your employee and they take care of your customer”. Perhatikan karyawan anda dan mereka akan memperhatikan pelanggan anda. Perusahaan antara lain menggunakan tolok ukur kinerja barikut:
         Kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
Tolok ukur kepuasan pelanggan adalah mengukur apakah perusahaan memenuhi harapan pelanggan atau sebaliknya, baik produk jasa maupun maunfatur.

         Retensi pelanggan (customer retention)
Tolok ukur retensi atau loyalitas pelanggan menunjukan bagaimana baiknya perusahaan berusahan mempertahankan pelanggannya. Secara umum dikatakan bahwa dibutuhkan 5x lebih banyak untuk memperoleh seorang pelanggan baru daripada mempertahankan seorang pelanggan lama.

         Pangsa Pasar (market share)
Pangsa pasar mengukur proporsi perusahaan dari total usaha dalam pasar tertentu.

         Pelanggan yang profitable
Untuk perusahaan yang mencari provit/keuntungan, hal yang digaris bawahi (bottom line) adalah pelanggan yang profitable, yaitu pelanggan yang memberikan keuntungan kepada perusahaan.

Dari Perspektif Bisnis Internal,  Terdapat hubungan sebab akibat antara perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dengan perspektif usaha internal dan proses produksi. Karyawan yang melakukan pekerjaan merupakan sumber ide baru yang terbaik untuk proses usaha yang lebih baik dengan proses control mutu yang benar.

Dari Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan, Untuk tujuan insentif, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan berfokus pada kemampuan manusia. Manajer bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan karyawan. Tolok ukur kunci untuk menilai kinerja manajer adalah kepuasan karyawan, retensi karyawan, dan produktivitas karyawan. Kepuasaan karyawan mengakui bahwa moral karyawan adalah penting untuk memperbaiki produktivitas, mutu, kepuasan pelanggan, dan ketanggapan terhadap situasi. Manajer dapat mengukur kepuasan karyawan dengan mengirim survei, mewawancarain karyawan, mengamati karyawan pada saat bekerja.
Seperti Melukis
Menjalankan Program Kerja sepertihalnya seorang pelukis melakukan guratan-guratan koasnya ke dalam kanvas. Program kerja adalah rencana yang telah diperhitungkan dan dipertimbangkan dan disetujui. Jika program kerja ingin berjalan sesuai dengan rencana maka lakukan dan tetap berpijak pada rencana yang telah ditetapkan, dari sisi pimpinan harus memberikan dukungan penuh dan pengawasan terhadap implementasi program. Tidak sedikit para manager yang terlena dan terpancing situasi dan kondisi dimana harus melalukan improvement dan akhirnya mereka terjebak dalam situasi yang sulit karena pembengkakan anggaran akibat dari kegiatan mereka yang tidak terkendali dengan baik. Hingga akhirnya tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan disitulah lukisan tidak akan sesuai dengan yang diinginkan oleh perusahaan.  Kuncinya adalah jika merencanakan ingin melukis seekor harimau mulailah dengan membuat guratan-guratan dan pola se ekor harimau, tetapkan tujuan awal, lakukan tahapan, jika ingin membuat terobosan kreatif usahakan gunakan pola warna yang mendukung bahwa warna tersebut adalah warna harimau. Karena jika salah dalam mengimplementasikan terlebih jika ada usaha untuk merubah strategi diperjalanan maka yang akan terjadi bukan seekor harimau yang akan dihasilkan dari lukisan tersebut, melainkan se ekor kucing bahkan mungkin bisa saja seekor tikus. Di moment laporan kerja silahkan anda evluasi apakah lukisan yang dihasilkan dari pekerjaan anda selama satu tahun sesuai dengan rencana awal atau justeru melenceng dari yang ditetapkan perusahaan.

LIBUR TLAH TIBA MARI MENJADI PELOPOR KESELAMATAN

Oleh : Yono Maulana S.Kom, MM, MPM® Akhir tahun 2016 tepatnya bulan Desember biasanya oleh banyak keluarga di Indonesia dijadikan sebagai waktu liburan karena bertepatan dengan hari libur nasional ditambah lagi dengan momen liburan anak sekolah. Masyarakat pada umumnya melakukan perjalanan liburan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.
Penulis yang juga aktif sebagai Pembina di Komunitas yang bernama DAAC (Daihatsu Ayla Astra Community) ingin mengingatkan dan mengajak untuk setiap individu menjadi Pelopor Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas, tetap waspada dan berhati-hati dalam berkendara dan berlalu lintas sehingga momen liburan bisa dinikmati oleh semua orang-orang yang dicintai. Mengapa penulis mencoba mengangkat tema ini ? dikarenakan angka kematian akibat kecelakaan sangat tinggi, berdasarkan data WHO tahun 2015 angka kematian di seluruh dunia akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak 1.25 juta dengan rentang umur 15 sampai dengan 29 tahun 3 dari 4 kematian adalah berjenis kelamin laki-laki. Setiap jam 141 orang meninggal di dunia akibat kecelakaan, dan 3 orang meninggal di Indonesia. Angka kematian akibat kecelakaan di jalan raya lebih tinggi angka kematian daripada korban narkoba.
Dari itulah peran lintas sektoral menjadi penting, baik produsen, pemerintah, dan masyarakat pada umumnya. Pendidikan, penyuluhan dan ajakan untuk tertib berkendara seharusnya menjadi tugas setiap individu, tidak hanya mengajak namun harus mampu menjadi pelopor tertib berkendara, menjadi contoh bagi pengendara walaupun sudah menjadi rahasia umum bahwa pada saat momen liburn beberpa lokasi macet dan disitulah letak pelanggaran sering terjadi. Peran keluarga menjadi sangat penting, menumbuhkan semangat tertib dan berhati-hati bisa dimulai dari sana. Mengapa demikian ? dari hasil survey penulis bahwa informasi yang efektif untuk memberikan nasihat adalah keluarga, bisa orang tua maupun pasangan hidup.
PENYEBAB KECELAKAAN
Dari berbagai kecelakaan yang terjadi di jalan raya bahwa penyebab kecelakaan disimpulkan ada 3 faktor penyebab, diantaranya adalah ;
  1. Faktor Kendaraan
  2. Faktor Alam
  3. Faktor Manusia
Dan yang paling dominan menyumbangkan kecelakaan adalah faktor manusia, akibat melanggar, tidak disiplin, lalai dan faktor lainnya. Maka dari itu saat melakukan perjalanan panjang saat liburan sebaiknya pastikan kondisi kesehatan fit. Begitu pula dengan kondisi kendaraan sebaiknya sebelum dibawa berlibur bawalah kendaraan ke bengkel terlebih dahulu untuk memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik.
GERAKAN AKSI
Untuk meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak di inginkan di jalan raya maka penulis mencoba menyederhanakan dengan kata AKSI. Dengan melakukan gerakan AKSI penulis berharap masyarakat bisa terhindar dari kecelakaan di jalan raya. Baiklah penulis jelaskan apa gerakan AKSI ? ;
A : Aturan, bahwa kita sebagai individu sudah seharusnya memahami dan mentaati aturan yang ada. Baik undang-undang jalan raya maupun memahami rambu-rambu lalu lintas, dan aturan tidak tertulis saat kita berada dijalan raya atau berkendara.
K : Keterampilan, bahwa seharusnya kita mengetahui dan menyadari sejauh mana kemampuan dan keterampilan kita dalam berkendara. Usahakan kita menguasai kendaaan bukan kendaraan yang menguasai kita. Dan jika kita masih ragu dalam berkendara di jalan raya dan jarak jauh baiknya jangan membawa kendaraan, serahkan atau cari driver yang secara keterampilan baik.
Si : Sikap, etika kita saat berkendara menjadi faktor yang sangat penting, banyak kecelakaan lalu lintas akibat dari manusianya yakni akibat cara berkendara, sikap dan kelalaian saat berkendara. Pengendalian diri dan memiliki sifat bijak dan mengalah jauh lebih baik agar kita selalu waspada dan berhati-hati.
Gerakan AKSI bisa menjadi kunci keselamatan berkendara, jika kita benar-benar, memahami dan melakukan dalam kegiatan keseharian kita dalam berkendara. Dengan melakukan AKSI Insya Alloh liburan anda berjalan dengan lancar, bisa menikmati keceriaan bersama dan bisa kembali kerumah dengan membawa sejuta cerita.

Senin, 17 Oktober 2016

PERSELINGKUHAN DAN PELACURAN DEMOKRASI

OLEH : Yono Maulana S.Kom, MM, MPM® Masa Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Kabupaten Brebes semakin dekat, aroma persiapan, pemilihan, strategi dan persaingan kian semakin terasa dan kentara. Tak terkecuali bagi pasangan inkumben yang sebelumnya sempat galau dan berencana maju dan unjuk diri masing-masing rupanya kembali harus berfikir matang dan kembali ke formasi sebelumnya, entah apa yang mendasari keputusan tersebut, apakah tidak percaya diri atau justeru sebaliknya merasa yakin dengan kekuatan yang sudah dibuktikan sebelumnya, tentunya dengan hasil pembangunan infrastuktur dan berbagai program keberhasilan lainnya yang mereka klaim. Sementara nama-nama lain yang sebelumnya dimunculkan dan sempat di branding di tiba-tiba hilang dan harus kembali ke formasi awal. Kesibukan tidak hanya terlihat pada pasangan inkumben namun juga terlihat pada pendatang baru, dikutip dari Tempo Online tanggal 22 september 2016 “kami menghadirkan calon alternative selain calon inkumben, yang bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik”. Pendatang barupun merasa mampu tentunya dengan berbagai pengalaman termasuk pernah menjadi salah satu menteri di kabinet sebelumnya.
Jika tidak ada calon pasangan lain lagi, ajang pemilihan kepala daerah Kabupaten Brebes akan menjadi menarik, sengit dalam persaingan dan bahkan memungkinkan kearah kerawanan kemanan. Bahkan tidak menutup kemungkinan terjadi perselingkuhan Demokrasi dan Pelacuran Demokrasi Pilkada.
 Perselingkuhan Demokrasi
Jika melihat secara luas, Bukan sebuah hal yang mustahil bahkan sudah terpampang nyata, karena saat ini demokrasi banyak yang berkerjasama dengan pemodal, para pengusaha berusaha meloloskan jagoannya dengan berbagai cara dan dukungan penuh keuangan yang pada akhirnya mereka bisa membangun kerjasama yang sudah pasti menguntungkan mereka. Pada akhirnya akan melahirkan kesenjangan.
Perselingkuhan di level bawahpun juga terjadi, bagaimana tidak mereka menyatakan dukungan kepada calon A, kemudian datang tim sukses calon B menyatakan hal yang sama. Masyarakat rupanya terjebak dalam perasaan dan suasana nikmat sementara, terjebak dalam senyum manis nan rupawan yang menghiasi setiap tempat, lokasi, gedung bahkan di ladang-ladang mereka. Pertanyaannya adakah jaminan dari masyarakat untuk loyal terhadap pilihan mereka ? atau mereka ingin mencoba rasa baru. Hanya rakyat pemilih dan Tuhan yang tahu.
Pelacuran Demokrasi
Mungkin terkesan kasar kalimat Pelacuran Demokrasi diatas, namun ini adalah sebuah analogi dari penulis. Saat menjelang tiba waktu PILKADA pelacuran demokrasi juga terjadi hampir diseluruh daerah, diawal berusaha maju sebagai kepala daerah namun harus terhenti atau bahkan mengentikan niatnya, semua karena tawaran yang menggiurkan. Visi dan Misi untuk kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat bukan lagi sebuah pondasi, nilai-nilai dasar kebangsaan tidak lagi ditanamkan daam hati, melainkan bagaimana mengkayakan diri sendiri dengan cara cepat, jelas dan tanpa harus banyak menerima resiko.
Pada akhirnya sikap dan tindakan figure seperti ini akan dicontoh oleh rakyat, dan menumbuhkan pelacur-pelacur demokrasi baru, mereka yang pada awalnya bersuara lantang menyerukan keadilan dan kesejahteraan rakyat, menjadi korektif para pemegang kekuasaan tiba-tiba hilang terbawa hanyut oleh tawaran yang menggiurkan, terbuai dalam kesenangan, bergelimang uang. Bagi para pelacur demokrasi level bawah, Visi, Misi, Program Kerja, para calon kepala daerah bukanlah sebuah hal penting, bagi para pelacur demokrasi adalah suara mereka adalah uang, kecerdasan mereka adalah uang, akadmis mereka adalah uang, loyalitas mereka adalah uang. Tidak ada kesetiaan jika tidak ada uang. Sampai saat ini para kepala daerah masih beranggapan bahwa untuk memenangkan pertarungan politik di Indonesia dikendalikan oleh Uang.
 Jadilah Pelopor Demokrasi Yang Benar
Sebagai rakyat Indonesia, baik yang di tunjuk untuk mencalonkan jadi Kepala Daerah maupun Menjadi Rakyat sebagai pemilih jadilah pelopor Demokrasi Yang Benar. Pengertian pelopor demokrasi yang benar menurut penulis adalah mampu menjadi pribadi yang Taqwa, Kredibel dan Legal.

Sabtu, 17 September 2016

Ayo Jadi Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas

Semangat Pagi Indonesia

Tahukah anda bahwa ;
70 juta orang meninggal akibat kecelakaan motor
Dan
*9 juta orang meninggal* akibat kecelakaan mobil
Dan
*3 orang meninggal* dalam sehari akibat kecelakaan lalu lintas!
Lebih Besar dari angka kematian akibat narkoba!

Kita diam! Atau berbuat hal kecil untuk saling mengingatkan? 
*Jika anda peduli!  Ayo Jadi Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas*
Dengan cara isi form dibawah ini.

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSfCvcZ4ovlmZlxcNaDerYcYrHGoAoaVNxdLyL5Xx8yCn9vM5g/viewform?c=0&w=1

Atau kunjungi website daac :
http://daihatsuaylaastracommunity.com/berita/2016/09/18/survey-indonesia-ayo-aman-berlalu-lintas/

Sebarluaskan ajakan ini bagi yang peduli keselamatan nyawa manusia!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code