Senin, 30 September 2013

DIINGATKAN KE MASA LALU

Perjalanan itu begitu terencana, dengan agenda yang telah di siapkan, dengan harapan besar akan didapatkan. Lancar tanpa hambatan, menebus tiap batas wilayah, menyusup diantara pegunungan yang indah dan berlapis, berbaris tak pernah putus deretan antara satu dengan lainnya.

Nafasku berdegup kencang, harapan dan kecemasan menyatu menjadi satu, berharap tugas berhasil ku dapat. disepanjang jalan gadis cantik yang menemaniku terus tersenyum, seolah memberikan harapan dan meyakinkan keberhasilan yang akan didapatkan. aku acuh, hanya terfokus dan terus berfikir untuk mengatur strategi alternatif 1,2,3 dan seterusnya. kondisi alam seperti mendukung, memberikan jalan pada kami, sehingga perjalanan tak ada kemacetan berarti, tepat waktu ditujuan. tak terasa putaran roda mobilku yang terasa panas terhenti diujung sebuah rumah asri dikelilingin pegunungan hijau nan elok.

Ah,,, aku merebahkan tubuhku di lantai yang dingin yang ditimbulkan oleh alam sekitar, terlelap, didekap lelah, tanpa menghiraukan gadis cantik pendampingku selama perjalanan. aku terbuai mimpi singkat yang indah, karena harus terbangun oleh ketukan pintu yang mengingatkanku hari sudah pagi dan memintanya untuk bersiap diri. 

Pertemuan penting itu berjalan sesuai dengan rencana, semua pembesar dan orang-orang yang memiliki kewenangan untuk mengeksekusi semua hadir dan memberikan dukungan. Aku bangga, lega dan tentunya aku memiliki harapan berikutnya. setiap kata dan strategi yang kami diskusikan, dicatat oleh jemari lembut putih namun gesit dan piawai dalam mendokumentasikan setiap kata penting.

Pertemuan hari pertama selesai sukses, dukungan sudah didapat, rencana di amini oleh semua pihak. hah! kini saatnya aku harus segera meluncur, kembali mengejar waktu yang sudah tersita oleh pertemuan tadi. langkahku tergesa meminta pengemudi untuk segera pergi memacu kuda besi yang kami tunggangi menebus perjalanan yang penuh tanjakan, kelokan mematikan serta saat gelap menyapa menawarkan celaka jika tidak waspada. 

saat empat roda berputar diatas 5200 RPM tiba-tiba aku memintanya untuk melewati jalur yang tak ku kenal sebelumnya. ada ragu namun harus diabaikan karena kami harus mencapai tujuan sesuai dengan rencana. hai.. gulita sekali perjalanan ini, terasa raungan mesin mengisaratkan lelah karena perjalanan terus menanjak, ah,, aku tidak peduli, akan banyak resiko jika aku harus toleran dengan menghentikan kendaraanku ditengah hutan. saat aku mencermati perjalanan ke kanan dan ke kiri, fokus tatapanku terhenti pada gadis cantik yang menemaniku sedari awal, ya Tuhan,,, aku lupa membawa serta dirinya, kelelahan dia rupanya, tanpa ada basa-basi menanyakan tentang kondisinya. matanya terpejam dipaksa kantuk dan lelah perjalanan, aku liat diwajahnya semangat, aku hanya tersenyum dan bergumam hampir terdengar keluar suaraku, kasihan kamu de, tapi ya itulah tugas dan tanggungjawab beserta konsekuensinya. 

aku putuskan perjalanan ini berhenti sejenak hanya untuk menstabilkan mesin kendaraanku yang mulai kelelahan, sebuah surau yang memiliki desain arsitektur yang indah berdiri di sebuah wilayah di dalam hutan, tapi aku meyakini perekonomian masyarakat daerah tersebut sangat baik, terlihat dari bangunan mesjid yang modern, serta usaha yang mereka dirikan sepanjang jalan tersebut. setelah kami berwudhu, sembahyang dan berdoa, perjalanan dilanjutkan, menebus malam, membelah gelap gulita. 

akhirnya sebuah jalan besar kami temui dengan keramaian yang berbeda dari sebelumnya tampak lebih hidup, perlahan kendaraan terus berjalan semakin lama pengliatanku semakin tidak asing, sepertinya aku pernah melihat, merasakan, bahkan memiliki masa lalu disitu. waw!! aku sadar! ini adalah daerah masa remajaku. ya! semasa aku menghabiskan masa remajaku disebua pondok pesantren salafy, ya Alloh Engkau ingatkan aku, Engkau bahkan arahkan aku ke tempat ini. 

kendaraan itu kuhentikan di satu tempat yang dulu biasa menjadi tempat aku belanja bahkan mencari makanan disitu, sekedar ingin mengingat masa-masa itu aku, gadis cantik itu menikmati malam dengan suguhan makanan dan cerita masa laluku di daerah tersebut. lagi-lagi ia hanya tersenyum berusaha ikut masuk kedalam kebahagiaan masa laluku.

tahukah kalian sudah lebih dari 20 tahun aku tidak kembali kesitu, tidak bersilaturahim ke Yaiku, tidak sungkem ke guru-dan ustad-ustad ku.ingin rasanya aku malam itu berkunjung namun sayang harus dihentikan oleh waktu yang tidak tepat.

gadis cantik yang menemaniku rupanya ingin mengetahui apa istimewanya daerah tersebut bagiku, ia bertanya bak seorang wartawan media lokal yang mengesalkan, aku menjawabnya dengan mudah, karena semua itu perjalananku, aku hanya menceritakan apa yang pernah terjadi pada daerah tersebut dan pada diriku saat itu. di akhir dialog itu ia berkata, "sepertinya kamu bahagia sekali, Tuhan luar biasa sayang sama kamu, tapi kenapa harus ada aku disini ya?, harusnya kamu merasakan saat ini dengan orang-orang yang kamu cintai"  ah?...keningku mengerut, awalnya ku berfikir dia akan merusak suasanya kebahagiaan jiwaku saat itu. dan ternyata,,, benar! gadis cantik itu merubah suasana kebahagiaan masa lalu, menjadi suasana kesedihan saat ini. aku terdiam seolah membenarkan statementnya. aku tersadar ada kisah yang aku sembunyikan dari lingkunganku tentang kisah sedih yang aku alami saat itu, dan gadis itu seolah tahu dan ingin mencari tahu lebih jauh kisah sesungguhnya tentang aku. ah,, siapa dia? persetan dengan statement nya, biarlah aku tetap pura-pura tidak memiliki masalah, aku hanya sedang bahagia dengan mengingat masa laluku.

selesai menikmati makanan malam perjalanan kami lanjutkan, terus menyusuri jalan halus dan lengang, tembus disebuah kota didaerah, kami putuskan untuk bermalam, beristirahat karena esok akan ada rencana yang sudah disiapkan. 

aku tahu persis dengan legenda dan dongeng masyarakat setempat, bahwa daerah tersebut ada lokasi wisata dan memiliki mitos roman, mitos tersebut adalah pasangan siapa yang berkunjung dan membasuh mukanya  di air danau tersebut akan jodoh atau dilanggengkan jodonya. penasaran dengan mitos tersebut gadis cantik itu meminta untuk diberikan kesempatan mengunjungi danau tersebut. sebetulnya itu bukan danau, itu adala waduk yang dibangun oleh belanda pada tahun 1835 untuk kepentingan irigasi, atau sering disebut DAM, namun waduk tersebut memiliki ukuran luas yang sangat besar, karena konon ceritanya DAM tersebut harus menenggelamkan 5 desa yang kini desa-desa tersebut tersebar di sepenjang batas pinggir waduk tersebut. 

wah,,,indah sekali tempatnya, seperti danau toba mini serunya, rambutnya yang tidak pernah diam karena tertiup kencang angin sore itu, matanya menikmati setiap lekukan lukisan alam ciptaan Tuhan yang diperlihatkan sore itu pada aku dan dia. "pantas saja kamu romantis, lahir di desa seprti ini membangun pribadi yang penuh seni" celotehnya. aku hanya tersenyum memperhatikan analisanya yang sok tahu tersebut. "oya, kamu percaya dengan mitos masyarakat sini" tanya nya lagi, aku hanya menganggukan kepala, "kalau begitu kenapa kita tidak coba untuk cuci muka dibawah sana yuk" ajaknya memaksa, dengan cekatan tangan halus dan putihnya menarik tanganku, yang tak berdaya. gadis cantik itu riang sekali, ia bermain air, membasuh mukanya seperti orang yang sedang melakukan wudhu. aku hanya geleng-geleng kepala dengan tetap tersenyum berusaha untuk membahagiakannya. 

ditempat itu, dengan momen yang hampir sama, lima tahun silam aku bersama seorang gadis juga, yang kini telah menjadi warna bagian dari sejarah perjalanan hidupku. ada cinta, harapan kasih sayang dan rencana masa depan. tiba-tiba aku tersadar ya Tuhan! aku harap saat ini Kau tidak sedang mengirimkan kembali masa laluku itu. masa lalu yang berawal manis dan indah harus berkahir dengan kepedihan dan kepahitan hidup. harpaan, semangat, kegembiraan nyaris sama saat itu yang dilakukannya, "ah ini hanya kebetulan saja" pungkirku berusaha untuk tidak meyakini rasa itu. ada rasa yang berbeda memang saat dekat dengannya, ada kebahagiaan yang tak terlukis memang saat menemukan kegembiraan dengannya, ada harapan dan semangat memang saat ia memberikan motivasinya, ada kehangatan memang saat dekat dengannya, dan ada kepercayaan luar biasa memang saat mencurahkan isi ceritaku. aku sadar ada rasa yang ku ingkari, begitu juga dengannya, pura-pura acuh tak butuh, menjadi kebiasaan yang kadang menjebak pada sebuah moment yang tidak bisa menolak satu sama lain.


aku duduk diatas batu yang disusun menjadi anak tangga disepanjang bibir danau, menatap matahari yang hendak terbenam, cahanya menebuh ranting kering jatuh di riak air yang tertiup angin sore itu. pecah, tak berpola namun memberikan warna dan bentuk yang indah, setiap kilauannya menebarkan warna-warni cahaya alami. lembayung sore merah merona, seperti wajahnya yang bersih cantik kemerahan saat di sapu langsung oleh cahaya matahari sore itu. aku tersenyum menatap melihat wajahnya, begitupun gadis cantik itu melihatku, kami duduk bersama memandang matahari sore yang seolah enggan meninggalkan kami karena cerita yang belum tuntas.

(selanjutnya-Diingatkan ke masa lalu 2)


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code