Selasa, 03 Desember 2013

Jeli Menangkap Peluang “Niche” di Pasar

Maya Carolina Watono, Managing Director Dwi Sapta Group
Maya Carolina Watono, Managing Director Dwi Sapta Group
Di tengah persaingan produk yang semakin ketat, marketers harus jeli mencari kesempatan dan menangkap peluang pasar. Menjadi market leader di pasar tidak harus selalu menjadi yang pertama di pasar. Merek yang masuk belakangan nyatanya juga berpeluang untuk menjadi market leader, misalnya dengan cara membuka ceruk pasar baru yang fokus kepada kebutuhan “niche market”.
Diasuh Oleh: Maya Carolina Watono, Managing Director Dwi Sapta Group, Penulis Buku “IMC That Sells (2011)”, dan Ketua International Affairs P3I Pusat
Pemasar dituntut untuk jeli melihat peluang pasar ketika akan memasuki pasar yang persaingannya sudah ketat. Apa yang dibutuhkan agar peluang dapat berdampak positif dan produk bisa diterima baik oleh pasar? (Sudaryanto, karyawan-Medan)
Ada cerita menarik yang sering dijadikan contoh ketika pemasar ingin meluncurkan produk baru. Yaitu, kisah tentang sebuah perkampungan di mana penduduknya tidak pernah menggunakan sepatu. Sebagai pemasar, tentu kita bisa melihat hal itu sebagai peluang, yaitu dengan meluncurkan produk sepatu sekaligus menumbuhkan kesadaran akan perlunya menggunakan sepatu lewat edukasi. Jika langkah itu berhasil, maka produk kita dapat menjadi pioneer sekaligus market leader.
Namun, menjadi market leader tidak harus selalu ditempuh dengan cara menjadi yang pertama di pasar. Pemasar sah-sah saja menunggu pasar yang ingin dimasukinya tumbuh terlebih dahulu, untuk kemudian masuk melalui value benefit yang berbeda dari merek yang sudah lebih dulu hadir. Strategi lain yang dapat digunakan adalah membuka ceruk pasar baru dengan cara menargetkan spesifik segmen dari existing target audience.
Semua strategi bisa saja benar. Semua langkah bisa saja beruntung dan sukses di pasar. Yang terpenting dalam menentukan strategi adalah pemasar harus tahu betul akan kemampuan yang dimiliki, baik secara kapabilitas produk, infrastruktur, finansial, dan sumber daya. Termasuk, keberanian dalam menanggung resiko, perhitungan untung rugi, dan penentuan waktu yang tepat. Sebab, timing bisa sangat menentukan apakah produk yang kita luncurkan akan meledak di pasar atau justru gagal.
Sebagai contoh perusahaan Kino Care lewat produknya Resik V adalah salah satu contoh merek yang jeli dalam membidik pasar pembersih kewanitaan. Saat ini pasar pembersih kewanitaan di Indonesia sedang growth secara fenomenal, seiring dengan kesadaran wanita Indonesia akan pentingnya pembersih yang khusus menjaga kebersihan daerah kewanitaan. Resik V memang bukan merek pertama yang menumbuhkan pasar di kategori ini. Sebelumnya, sudah ada merek lain yang hadir untuk mengedukasi pasar pembersih kewanitaan dengan persaingan yang kompetitif. Namun, Resik V mampu melihat peluang lain melalui tawaran value yang berbeda yang dibutuhkan oleh konsumennya, yakni dengan membidik spesifik target audience Wanita Muslim dan melalui varian Resik V Manjakani.
Resik V sendiri memiliki beberapa lini produk, yakni Resik V Sabun Sirih, Resik V Spa, Resik V Extra, dan Resik V Khasiat Manjakani. Lini produk yang dinilai memiliki kontribusi paling tinggi adalah Manjakani. Lantaran, khasiat Manjakani memang belum dimiliki oleh kompetitor, yaitu dapat merapatkan organ intim wanita. Dengan demikian, Resik V Manjakani memiliki unique selling proposition dan point of differentiation yang sangat kuat.
Kejelian terlihat ketika Resik V Manjakani membidik target market utamanya, yakni wanita muslimah yang sudah menikah, dengan insight psikografi wanita yang selalu ingin menjaga keluarga mereka menjadi keluarga Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah. Sejatinya, menjadi wanita soleha adalah impian setiap wanita muslimah, sedangkan menjaga keluarga Sakinah, Mawwadah, Warrahmah adalah cerminan wanita soleha. Message dari kampanye komunikasi Resik V Manjakani pun menggunakan key consumer insight tersebut. Untuk mendapatkan message tersebut marketers harus in-tune dengan konsumen dan kebutuhan yang ada di pasar, yang kadang tidak dapat langsung terlihat jelas.
Sementara itu, khasiat Manjakani selama berabad-abad telah dipakai sebagai ramuan obat tradisional orang Arab, Iran, Cina, India, dan Melayu. Khasiatnya selain sebagai antiseptik alami organ kewanitaan, juga dapat mengencangkan otot vagina. Artinya, dengan feature dan benefit seperti itu, rasanya tepat bila Resik V Manjakani dapat memenuhi kebutuhan kharakter wanita muslimah yang ingin selalu membahagiakan suami lahir dan bathin tanpa pamrih. Di samping itu, faktor kehalalan Resik V Manjakani menjadi penting, karena membuat konsumen—dalam hal ini wanita muslimah—tidak ragu lagi untuk mengunakannya setiap hari.
Sukses Resik V Manjakani juga didukung oleh strategi marketing komunikasi yang terintegrasi. Melalui rancangan komunikasi yang Dwi Sapta Group rumuskan, Resik V Manjakani yang memiliki tagline “Resik V Manjakani-Manjakan Suami”, mampu menonjolkan sisi fungsional sekaligus sisi emosional produk. Agar cepat dikenal, dipilihlah Inneke Koesherawati sebagai brand endorser, yang dinilai dapat mewakili segmen wanita muslimah Indonesia. Hasilnya, penjualan Resik V Manjakani meningkat dengan signifikan sejak diadakannya kampanye komunikasi tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code