Minggu, 17 Januari 2016

REVOLUSI MENTAL, SAYA HARUS BERUBAH

Semenjak kepemimpinan Presiden Jokowi Revolusi Mental kerap kita dengar mulai saat kampanye sampai sekarang di media elektronik dan media cetak rutin menghiasi tivi dirumah kita dengan iklan layanan masyarakat tersebut. Mengacu kepada website revolusimental.go.id revolusi mental adalah gerakan seluruh rakyat Indonesia bersama Pemerintah untuk memperbaiki karakter bangsa menjadi Indonesia yang lebih baik. Revolusi mental bukanlah pilihan namun sebuah keharusan agar bangsa Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa lainnya dengan revolusi mental Indonesia bisa lebih baik tentunya dimulai dari diri kita sendiri.

Mengapa Harus Revolusi Mental ?
Jika kita bertanya pada diri kita sendiri, mengapa harus Revolusi mental ? sudah rusak parahkah bangsa ini ? sudah tidak berbudikah pekertikah kita ini ? sudah tidak ada lagikah pejabat negara ini yg bisa jadi tauladan ? awalnya penulis merasa tersinggung dengan slogan Revolusi Mental, alangkah tidak bernilainya masyarakat Indonesia ini, apa iya sampe-sampe masalah antri saja harus di iklankan di tv? Apa iya soal buang sampah saja harus diajarin? Bukankah kita sudah dapat sedari kita bisa mulai berjalan dan berkomunikasi dengan orang tua, kemudian di susul di taman kanak-kanak, sd, smp, sma bahkan perguruan tinggi soal buang sampah pada tempatnya kita semua pasti pernah diajarkan, diajak dan melakukan. Dan kita juga tahu bahwa bohong itu dosa, mencuri itu dosa, berjudi itu dosa, berjina juga dosa dan seluruh tindakan yang merugikan orang lain tidak boleh kita lakukan. Kita juga sepakat bahwa koruptor harus di hukum seberat-beratnya.
Namun, setelah penulis mencoba menelaah dari berbagai sudut, termasuk membaca dari sumber website revolusimental.go.id lumayan kaget juga ternyata “Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal yang baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal yang buruk cenderung tinggi. Contoh, data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, Indonesia berada di rangking 114 dengan skor 32 Ini di bawah Ethiopia yang berada pada posisi 111”[1]

SIAPA YANG HARUS MELAKUKAN REVOLUSI MENTAL ?
Jawabannya adalah KITA, lebih tepatnya adalah saya! Apapun profesi dan jabatannya, berapapun umurnya, apapun jenis kelaminnya serta dimanapun anda selama berada diwilayah kesatuan Negara Republik Indonesia harus melakukan perubahan.
Sebagai contoh revolusi mental di kalangan mahasiswa, bulan januari sampai dengan maret adalah jadwal Ujian Akhir Semester (UAS) dilaksanakan kita semua sadar bahwa menghadapi UAS adalah belajar, tapi tidak sedikit dari sahabat mahasiswa yang masih  malas dan mencari jalan pintas dalam proses ujian, disinilah peran harus melakukan revolusi mental, dimana kejujuran, ketekunan dan kerjakeras dalam proses belajar adalah bagian penting menuju Ujian.
Jika kita seorang yang memiliki profesi Dokter, melayanilah dengan tulus para pasien yang berharap sembuh, jika kita seorang polisi mengabdilah dengan jujur, jika kita hakim memutuslah dengan adil, jika kita tokoh agama sebarkanlah perdamaian, jika kita pengusaha carilah keuntungan yang halal, jika kita seniman hiburlah dengan sesuai norma dan budaya, dan masih banyak contoh-contoh lainnya.
Jika kita tidak ingin REVOLUSI MENTAL hanya slogan yang terdiri dari kosakata pelipur lara, cerminkan dan jadikan diri kita sebagai model dalam melakukan perubahan.

NILAI-NILAI STRATEGIS REVOLUSI MENTAL
Sebagai bahan pengetahuan pemerintah sudah mendefinisika nilai-nilai revolusi mental kedalam beberapa kategori diantaranya adalah ;

1.    Intergritas, memiliki sub nilai yang terdiri dari ;
a.    Kewargaan, contoh prilaku sebagai berikut ;
                                               i.     Bersih, antri, hak disable, hak pejalan kaki,  aman berkendara
b.    Dapat Dipercaya , contoh prilaku sebagai berikut ;
                                               i.     Anti memberi dan menerima suap
2.    Etos Kerja, memiliki sub nilai yang terdiri dari ;
a.    Profesional, contoh prilaku sebagai berikut ;
                                               i.     Cepat tanggap, tepat waktu, tidak menunda pekerjaan
b.    Mandiri, contoh prilaku sebagai berikut ;
                                               i.     Cinta Produk Indonesia
c.     Kreatif, contoh prilaku sebagai berikut ;
                                               i.     Melakukan Inovasi, anti mencontek, life long learning
3.    Gotong Royong, memiliki sub nilai yang terdiri dari ;
a.    Saling menghargai, contoh prilaku sebagai berikut ;
                                               i.     Sopan santun, menghargai perbedaan, anti kekerasan, anti diskriminasi, kasih sayang.
b.    Gotong Royong, contoh prilaku sebagai berikut ;
                                               i.     Tolong menolong, kerjasama dan kerelawanan

sudah bisa kita pahami diatas adalah nilai-nilai strategis Revolusi mental yang harus didukung dan dilaksanakan oleh kita semua agar 8 prinsip revolusi mental[2] bisa terwujud, diantaranya adalah ;
1.     Revolusi Mental adalah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik.
2.     Harus didukung oleh tekad politik (political will) Pemerintah
3.     Harus bersifat lintas sektoral.
4.     Kolaborasi masyarakat, sektor privat, akademisi dan pemerintah.
5.     Dilakukan dengan program “gempuran nilai” (value attack) untuk senantiasa mengingatkan masyarakat terhadap nilai-nilai strategis dalam setiap ruang publik.
6.     Desain program harus mudah dilaksanakan (user friendly), menyenangkan (popular) bagi seluruh segmen masyarakat.
7.     Nilai-nilai yang dikembangkan terutama ditujukan untuk mengatur moralitas publik (sosial) bukan moralitas privat (individual).
8.     Dapat diukur dampaknya dan dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat.
JADI PENGGERAK REVOLUSI MENTAL ITU MUDAH
Pada prinsipnya apa yang diinginkan oleh Presiden Jokowi dan Seluruh Rakyat Indonesia melaksanakan revolusi mental adalah pekerjaan mudah! Mengapa mudah ? karena gerakan revolusi mental bukan hal baru, kita sudah di ajarkan oleh orang tua kita, oleh guru kita, oleh dosen kita, oleh pengalaman hidup dan paling inti adalah oleh hati dan sanubari kita.
Karena pada intinya hati manusia bisa dan mampu membedakan mana yang benar dan salah, mana yang dilarang dan boleh, mana yang dosa dan berpahala. Kita adalah mahluk Tuhan yang istimewa diberikan segala bentuk kelebihan dan kekurangan, salah satunya adalah akan dan pikiran yang berfungsi untuk memilah tadi itu.
Sugestingkan pada diri kita bahwa Berbuat Baik itu mudah dan berbuat Jahat itu sulit, revolusi mental itu dimulai dari diri sendiri, jadi mengendalikan diri sendiri jauh lebih mudah dibandingkan mengendalikan diri orang lain. Lakukan dari hal kecil, mulai sekarang, berikan contoh, dan ajak orang lain, Indonesia bisa berubah lebih baik semua bermula dari kita.

Penulis :
Yono Maulana S.Kom, MM
Dosen di beberapa Kampus
Konsultan Manajemen
www.yonomaulana.com



[1] Sumber : www.revolusimental.go.id, di akses 18 Januari 2016
[2] sumber : www.revolusimental.go.id

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Hostgator Coupon Code